Hadi Sugito

Ki Hadi Sugito adalah salah satu Dalang Kondang pada masa 1975-2008 yang pernah di miliki Indonesia. Pria kelahiran Toyan, Wates, Kulon Progo, Yogyakarta pada tanggal 10 April 1942 ini meninggal pada tanggal 9 Januari 2008, Bulan yang sama dengan meninggalnya Bapak Pembangunan kita yaitu Bapak Soeharto. Jika kita bertanya kepada kakek atau orang tua-tua tentang siapa Dalang yang memiliki Suluk paling indah? Jawabanya pasti Dalang Ki Hadi Sugito.
Ya, sampai saat ini Suluk Ki Hadi Sugito memang belum ada tandingnya. Itu merupakan ciri khas yang mungkin hanya dimiliki oleh Hadi Sugito. Beliau merupakan dalang dengan gagrak Mataraman, namun bukan penganut pakem yang paten.
Dalam setiap pementasan pagelaran wayangnya, Hadi Sugito pandai melakukan improvisasi cerita dan selalu menghindari bahasa-bahasa yang kromo inggil dan menggunakan bahasa yang sederhana mudah dipahami. Sehingga pementasan wayangnya bukan hanya dinikmati oleh kaum tua, melainkan kaum muda-muda.

Pakeliran Hadi Sugito: Ngemu Carios, Ngemu Raos, Ngemu Urip

Ki Hadi Sugito
Ki Hadi Sugito

Hadi Sugito secara gamblang digambarkan mempunyai kemampuan prima di semua bidang, di antaranya mampu menghadirkan hal-hal yang tampaknya sepele menjadi cerita, bicara suatu hal dalam bentuk cerita, tidak membosankan dan tidak melelahkan karena tidak mengkhotbahi, tidak saja bercerita tapi berhasil menciptakan alam cerita. Kemampuan seorang dalang dalam mengurai cerita mempengaruhi proses pemaknaan atau nêgês, karena penceritaan atau gelaring carios adalah proses mengubah nilai menjadi peristiwa. Hasil akhirnya bukan lagi pengetahuan akan nilai, melainkan pengalaman akan nilai. Pengalaman jenis ini yang diyakini mampu membuat penonton atau pendengar merasa asyik mengikuti wayang sebagai gelaring carios.
Hal lain yang juga ditegaskan adalah bahwa konstruksi seni dalam wayang bukan hanya dialami lewat cerita (carios) melainkan juga rasa (raos). Pakeliran menjadi semacam pendidikan rasa yang pada gilirannya bisa membantu orang untuk merasai kehidupan itu sendiri karena hanya lewat rasa, pengetahuan baru akan muncul. Selanjutnya dipaparkan tiga hal unik sehubungan dengan rasa dalam pakeliran Hadi Sugito yaitu, pertama, rasa hasil sintesa antara rasa dunia pewayangan yang selama ini dianggap sebagai budaya adi luhung dengan rasa kehidupan sehari- hari orang kebanyakan. Kedua, Hadi Sugito mahir menyandingkan berbagai rasa ke dalam satu momen sehingga penonton atau pendengar ditempatkan dalam situasi ketidakpastian namun mendebarkan dan nikmat. Ketiga, Hadi Sugito berhasil membangun idiom-idiomnya sendiri untuk membangun berbagai rasa dan suasana dalam wayang.
Di samping bercerita dan membangun rasa, dalam pakeliran Hadi Sugito ditemukan apa yang disebut mbabar, berarti membuat dadi akeh, tangkar-tumangkar, mbukak wadi, atau melahirkan. Pada tahap ini, seorang dalang tidak hanya mengisahkan cerita, tidak hanya melahirkan rasa, namun seakan-akan mengalami kemanjingan sehingga dia tidak lagi bercerita atas dasar suatu lakon melainkan atas dasar dirinya sendiri. Dalang tidak lagi peduli dengan penonton melainkan sudah bicara sendiri. Dalam situasi kemanjingan, entah sadar atau tidak seorang dalang melahirkan pengetahuan (kawruh).
Hal yang menarik, di ujung bagian kedua ini dikatakan bahwa meskipun kemampuan mbabar pertama-tama dikaitkan dengan sang dalang, kemampuan mbabar juga dialami penonton atau pendengar dalam situasinya masing-masing.

Dhagelan Satiris ala Hadi Sugito

Semua pandhemen mengakui bahwa dhagelan menempati posisi krusial dalam pakeliran Ki Hadi Sugito. Karena itu, sisi satiris dhagelan Hadi Sugito menjadi tema yang dibahas kemudian. Dengan memaparkan bentuk dan nilai dhagelan Hadi Sugito, penulis di bagian ini menegaskan bahwa dhagelan bukan hanya menjadi selingan atau ornamen yang menghiasi pokok cerita. Dhagelan bernuansa satiris menjadi suasana dalam pertunjukan Hadi Sugito dan tersusun atas tiga unsur, yaitu subjek pelontar wacana satir, target satir, dan pihak kedua yang diajak bicara secara satiris.
Salah satu fungsi dhagelan satiris ini mengakui bahwa ada masalah dalam tema seputar kehidupan sehari-hari yang dihadirkan melalui dhagelan. Orang senang dengan dhagelan Hadi Sugito yang bernuansa satiris karena secara tidak langsung mendapatkan bahasa untuk bicara tentang dirinya sendiri.
Pemetaan tema-tema dhagelan mengajak pembaca menyadari bahwa Hadi Sugito seratus persen terlibat dalam kehidupan nyata pendukungnya sekaligus seratus persen bermain wayang. Seratus persen bicara tentang dunia faktual sekaligus seratus persen bicara dunia fiktif pakeliran. Penulis bagian ini menegaskan bahwa dhagelan tidak berkaitan dengan ketidakseriusan. Sebaliknya, dhagelan justru muncul dari jantung keseriusan Hadi Sugito bermain wayang. Dhagelan Hadi Sugito yang sarat dengan nyék-nyékan atau ejek-ejekan mengasyikkan inilah yang dikatakan bersifat satiris, sebuah bahasa yang menjadi ciri Hadi Sugito untuk bicara tentang kehidupan sehari-hari yang ia saksikan dan alami bersama rombongannya.
Cerita yang segar, tidak monoton, lucu dan mudah dipahami membuat dalang yang satu ini kebanjiran jadwal pementasan baik di dalam Kota, luar Kota bahkan sampai manca Negara. Dan kini banyak kerinduan tentang sosok dalang yang satu ini. Semoga beristirahat dengan tenang Ki Hadi Sugito, Sulukmu akan selalu terdengan merdu di telinga kami.

Loading...

Baca Juga :

Loading...

, , , ,
Artikel Terkait
Latest Posts from DalangSeno.com