Keris Sakti Setan Kober

dalangseno.com kali ini ingin mengulas mengenai Macam-macam Keris Pusaka peninggalan leluhur kita. Selain untuk mengingatkan dan mengenalkan kembali terutama pada generasi muda bahwa Negeri kita ini sangat luar biasa.

Negeri ini banyak sekali menerima peninggalan pusaka yang luar biasa hebatnya baik dari segi bahan, pembuatan dan kesaktianya. Ada banyak sekali keris dengan berbagai macam nama, pamor dan juga fungsinya.

Berikut beberapa macam Keris yang cukup populer dan terkenal antara lain :

1. Keris Ageng Kopek / Kangjeng Kyai Ageng Kopek

Keris Ageng Kopek
Keris Ageng Kopek

Ini merupakan keris utama di Keraton Yogyakarta yang hanya dipegang oleh Sultan yang memimpin, sebagai lambang pemimpin rohani dan dunia. Kangjeng Kyai Ageng Kopek, lanjut Jatiningrat, adalah keris peninggalan Sunan Kalijaga. Keris itu diberikan oleh Pakubuwono III pada 15 Februari 1755 di Lebak, Jatisari, dua hari setelah perjanjian Giyanti. Di Lebak itu, Pakubuwono III dan HB I untuk pertama kalinya bertemu. Karena saat penandatanganan perjanjian Giyanti, hanya dihadiri oleh perwakilan HB I dan pihak VOC, Nicolaas Hartingh, W van Ossenberch dan JJ Steenmulder.

2. Keris Joko Piturun

Ini adalah keris pusaka nomor dua di lingkup Keraton Yogyakarta. Kanjeng Kyai Joko Piturun akan diberikan kepada putra mahkota Kraton Yogyaarta. Konon keris ini pernah dimiliki Sunan Kalijaga dan ditempa oleh pandai besi kenamaan di Kerajaan Demak.

3. Keris Kyai Pleret

Kabarnya keris ini adalah sperma dari Syeh Maulana Maghribi, yang kala itu tidak sengaja menyaksikan adik perempuan Sunan Kalijaga, Rasa Wulan yang tengah mandi di Sendang Beji. Tetesan sperma yang menetes ke air akhirnya membuat Rasa Wulan menjadi hamil. Kemudian disebutkan tetesan yang lainnya tiba-tiba mengeras dan berubah wujud menjadi sebuah mata tombak yang kemudian dinamai keris Kanjeng Kyai Pleret.

4. Keris Baru Klinting

Kanjeng Kyai Baru Klinting
Kanjeng Kyai Baru Klinting

Pusaka ini juga berupa tombak yang pernah digunakan abdi dalem bernama Ki Nayadarma untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin Adipati Pati Pragola. Tombak ini berasal dari lidah seekor naga yang dipotong oleh Panembahan Merbabu kakek ki Ageng Mangir.

Cerita ini berawal dari Ki ageng Mangir yang menghukum anaknya Baru Klinting yang berwujud naga untuk melingkari Gunung Merapi. Akan tetapi, kurang sedikit lagi Baru Klinting menjulurkan lidahnya. Hal itu yang membuat Ki Ageng Mangir memotong lidah Baru Klinting dan kemudian menjadi sebuah mata tombak.

5. Keris Empu Gandring

Keris Empu Gandring
Keris Empu Gandring

Salah satu keris yang paling terkenal dalam sejarah, mengingat menurut cerita kutukannya memakan banyak korban dari para bangsawan kerajaan Singasari termasuk Ken Arok, sang pendiri Kerajaan Singasari.

Keris sakti yang kabarnya punya kekuatan ghaib begitu kuat, seperti namanya, dibuat oleh seorang Empu yang terkenal sangat sakti yaitu Empu Gandring. Awalnya dibuat sebagai pelindung, akan tetapi menjadi keris yang mengerikan setelah disalahgunakan oleh Ken Arok untuk membunuh pembuatnya hingga menciptakan malapetaka.

6. Keris Condong Campur

Keris Condong Campur
Keris Condong Campur

Salah satu keris peninggalan masa Kerajaan Majapahit, Condong Campur merupakan suatu lambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan.

Menurut legenda yang diyakini, keris ini punya Empu yang berjumlah 100 orang dan material bahan untuk membuat keris ini diambil dari banyak tempat dengan harapan bahwa nantinya keris ini akan menjadi keris pusaka yang ampuh dan tidak memiliki watak jahat ataupun aura negatif.

7. Keris Sakti Nogososro Sabuk Inten

Keris Sakti Nogososro Sabuk Inten
Keris Sakti Nogososro Sabuk Inten

Keris Sakti Nogososro Sabuk Inten merupakan keris karya Empu Ki Enom yang terkenal linuwih pada zaman kerajaan Majapahit. Fungsinya siapa saja yang memegang keris ini akan menjadi orang yang sangat disegani, baik oleh kalangan manusia maupun jin.

8. Keris Sakti Setan Kober

Keris Sakti Setan Kober adalah karya Empu Supo Mandrangi dari Tuban. Hadir sebagai keris sakti, yang konon bagi orang yang memiliki Keris Setan Kober akan menjadi orang pilih tanding, tapi haus darah.

Rujukan:

  • Darmosoegito, Ki. 1992. Bab Dhuwung. Djojobojo. Surabaya. Hal. 16.
  •  Indonesia – Information related to Intangible Cultural Heritage. Laman UNESCO.
  •  a b c d Origin of The Keris. II. Chinese Influence. Laman Old Blades. Malay World Edges Weapons.
  •  a b Origin of The Keris. III. Keris and Sivaism. Laman Old Blades. Malay World Edges Weapons.
  •  a b c d Lumintu. 1985. Besi, Baja, dan Pamor Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. hal. 4.
  •  a b Origin of The Keris. I. Keris Buda. Laman Old Blades. Malay World Edges Weapons.
  •  Lumintu. 1985. Besi, Baja, dan Pamor Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 3.
  •  Moebirman. 1980.a,Keris Senjata Pusaka. Yayasan Sapta Karya. Jakarta.
  •  “Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian”. Wikisource. Wikisource. Diakses tanggal 23 May 2013.
  •  lihat misalnya pada versi bahasa Inggris dari terbitan 1944 oleh Armando Cortesao (Cortesao A. 2005. Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Francisco Rodriguez. Asian Publishing House. New Delhi. Hal. 179.
  •  Origin of The Keris. IV. The birth of modern keris. Laman Old Blades – Malay World Edged Weapons
  •  Recits de Voyages du XVI et XVIIème siècle. Laman Old Blades: Malay World Edged Weapons.
  •  The Malay armed forces in: ‘Description of Malaca’, from Godinho de Eredia (1613). Laman Old Blades: Malay World Edged Wapons. “Description of Malaca” dirilis ulang oleh The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, Cetakan 14, 1997.
  •  Darmosoegito, Ki. 1992. Ibid. Hal. 9.
  •  Harsrinuksmo B. 1986. Petunjuk Praktis Merawat Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 7.
  •  Harsrinuksmo, B. 1985. Pamor Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 7–8.
  •  Kusni. 1979. Pakem. Pengetahuan tentang Keris. C.V. Aneka. Semarang. Hal. 91.
  •  a b c Murtidjono. 1991. Besalen-besalen di Surakarta Masa Kini. Dalam:Sarasehan Seni Kriya Keris Jakarta 1991. Kumpulan Makalah. Panitia Pameran dan Sarasehan Seni Kriya Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 35–42.
  •  Harsrinuksmo B. 1985. Tanya Jawab Soal Keris. Pusat Keris Jakarta. Jakarta. Hal. 30., dan Jeno Harumbrojo (Yogyakarta)
, , ,
Artikel Terkait
Latest Posts from DalangSeno.com