ora ilok larangan dalam bahasa jawa

Ungkapan Ora Ilok atau larangan banyak sering sekali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari terutama dilingkungan masyarakat jawa. Larangan atau ora ilok ini banyak yang sama disetiap daerah namun ada juga yang berbeda di setiap daerahnya. Dulu ungkapan larangan atau ora ilok ini sangat dipercaya dan digugu.

Sebagai sebuah tradisi, ora ilok dalam bahasa Jawa mengandung pesan moral dan nilai-nilai kebaikan atau budi pekerti bagi masyarakat Jawa. Ungkapan tersebut dimaksudkan agar seseorang tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau melanggar unggah-ungguh. Karena menjaga unggah-ungguh dan sopan santun dalam masyarakat jawa adalah hal yang sangat penting.

Ora Ilok atau Larangan dibagi menjadi beberapa golongan :

1. Larangan dengan menyertakan akibat

  1. Ora ilok nglungguhi bantal, engko wudunen

“tidak baik menduduki bantal, nanti bisa bisulan”

  • Ora ilok dolanan beras, engko tangane kithing

“tidak baik bermain beras, nanti tangannya keriting (dua jari tangan saling melekat /bertumpang tindih)

  • Ora ilok ngidoni sumur, mengko lambene guwing

“tidak baik meludahi sumur, nanti bibirnya sumbing”

  • Ora ilok perawan lungguh/ngadek neng ngarep lawang, mengko iso dadi perawan tuwa

“tidak baik anak gadis duduk atau berdiri di tengah pintu, nanti bias jadi perawan tua”

2.    Larangan tidak menyertakan akibat  

  1. Ora ilok mangan karo turu

“tidak baik makan sambil tidur”

  • Ora ilok bocah wedok lungguh karo jigang

“tidak baik anak perempuan duduk dengan mengangkat kaki”

  • Ora ilok mangan karo ngomong

“tidak baik makan sambil ngomong”

  • Ora ilok mbuang uwuh neng longan

“tidak baik membuang sampah di kolong”

Fungsi dan Makna Ungkapan ora ilok

Berdasarkan data, fungsi ungkapan ora ilok dalam bahasa Jawa dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu


a.     Untuk Anak-anak
       Berdasarkan data, contoh ungkapan ora ilok yang difungsikan untuk
       anak-anak adalah sebagai berikut.

1. Ora ilok lungguh neng nduwur bantal, mengko wudunen “tidak baik
    duduk di atas bantal, nanti bisulan”
    Fungsi yang dimaksudkan dalam ungkapan ora ilok lungguh neng
    nduwur bantal, nanti bisulan “tidak baik duduk di atas bantal nanti
    bisulan” tersebut berkaitan dengan siapa dan kapan larangan tersebut
    digunakan. Berdasarkan bentuknya, dapat dilihat bahwa larangan
    tersebut adalah sebagai nasihat orang tua kepada anaknya. Ungkapan
    ini dimaksudkan sebagai pengajaran beretika atau sopan santun
    kepada anak supaya tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak
    baik. Dengan cara yang arif, melalui ungkapan ora ilok tersebut,
    orang tua bermaksud mengingatkan anaknya untuk tidak melakukan
    sesuatu yang tidak baik. Jadi bukan semata-mata akan menyebabkan
    bisulan ketika anak menduduki bantal. Bantal digunakan sebagai alas
    kepala ketika tidur. Oleh karena itu, tidak sopan jika bantal yang
    seharusnya untuk kepala tapi ditempatkan di bawah pantat sebagai
    alas duduk.

2. Ora ilok mbuka payung neng njero omah, mengko ibuke mati “tidak
    baik membuka payung di dalam rumah, nanti ibunya meninggal”
    Dengan melihat bentuknya,fungsi ungkapan ini merupakan nasihat
    orang tua kepada anaknya, karena pada umumnya anak-anaklah suka
    bermain payung. Jika dipikir secara nalar tidak mungkin seseorang
    yang bermain dengan membuka payung di dalam rumah akan
    mengakibatkan ibunya meninggal. Dengan menakut-nakuti ibunya
    akan meninggal diharapkan si anak tidak bermain payung lagi,
    karena payung seharusnya digunakan di luar rumah ketika sedang
    hujan. Selain itu, alasan lain yang masuk akal adalah jika membuka
    payung di dalam rumah juga akan membahayakan orang lain. 

3. Ora ilok dolanan beras, engko tangane kithing “tidak boleh bermain
    beras, nanti tangannya kithing (dua jari tangan saling melekat
    /bertumpang tindih)
    Fungsi ungkapan ini adalah sebagai peringatan orang tua kepada
    anaknya untuk tidak bermain beras. Larangan tersebut diucapkan
    dengan cara yang arif, yaitu dengan ungkapan ora ilok, jadi orang tua
    tidak perlu melarang anaknya dengan cara yang keras atau dengan
    marah supaya tidak melakukan perbuatan yang tidak baik, karena
    pada umumnya anak-anak akan lebih menurut jika orang tua
    menasehati dengan kelembutan dan kesabaran. Di samping itu,
    secara rasional, beras merupakan bahan makanan yang seharusnya
    bersih, jadi tidak baik jika dipakai mainan karena mengakibatkan
    beras menjadi kotor, selain itu jika dipakai untuk mainan beras bisa
    tumpah dan berceceran.

b.     Untuk Anak Gadis

1. Ora ilok perawan lungguh/ngadek neng ngarep lawang, mengko iso
   dadi perawan tuwa” “tidak baik anak gadis duduk atau berdiri di
   tengah pintu, nanti bisa jadi perawan tua”
   “Larangan anak gadis duduk/berdiri di tengah pintu, itu merupakan
   ajaran atau nasihat orang tua kepada anak gadisnya yang berkaitan
   dengan etika. Larangan ini pun mempunyai alasan yang tidak
   diungkapkan secara langsung. Dengan memberikan larangan ini
   diharapkan si gadis terbiasa berperilaku baik, karena dengan
   terbiasa berperilaku baik di rumah diharapkan anak gadisnya akan
   menjadi sosok yang berbudi pekerti luhur. Kebiasaan duduk di depan
   pintu, di mata orang-orang tua Jawa, bisa memberikan kesan bahwa
   si gadis kurang santun. Selain itu, duduk di depan pintu tidak pantas
   dan bisa menggangu orang lain yang akan melewati pintu. Jadi,
   sebaiknya duduk di tempat yang seharusnya,

2. Ora ilok anak perawan maem nyonggo piring, mengko ditampik joko
    “tidak baik anak gadis makan dengan menyangga piring, nanti ditolak
    jejaka”
    “Dilihat dari bentuknya, larangan ini sama dengan larangan duduk di
    depan pintu. Makna larangan anak gadis makan dengan menyangga
    piring itu merupakan ajaran atau nasihat orang tua kepada anak
    gadisnya yang berkaitan dengan etika. Larangan ini pun mempunyai
    alasan yang tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan
    tersebut adalah peringatan agar si gadis bertingkah laku sopan ketika
    makan, dengan mengikuti tata cara makan yang benar, dengan
    meletakkan piring di meja makan. Di samping itu, jika makan dengan
    menyangga piring selain tidak sopan, akan mengakibatkan piring
    mudah terjatuh kalau tersenggol.

3. Ora ilok nyugokne geni nggawe sikil
    “tidak baik memasukkan kayu ke dalam tungku dengan menggunakan
    kaki”
    Dengan memperhatikan bentuknya, larangan memasukkan kayu ke
    dalam tungku dengan menggunakan kaki ini bermakna nasihat orang
    tua kepada anak gadisnya supaya bertingkah laku yang baik dan
    sopan. Tidak pantas di pandang jika seorang gadis pada saat
    memasak, memasukkan kayu ke dalam tungku tidak menggunakan
    tangan, tetapi dengan menggunakan kaki. Dengan larangan tersebut,
    diharapkan si gadis akan berperilaku yang baik, dan melakukan
    segala sesuatu sesuai dengan aturan yang benar. Selain itu, kalau
    memasukkan kayu ke dalam tungku dengan menggunakan kaki akan
    membahayakan dirinya sendiri, karena bisa menyebabkan kakinya
    terbakar.

4. Ora ilok bocah wedok lungguh karo jigang “tidak baik anak
    perempuan duduk dengan mengangkat kaki”
    Dengan melihat bentuk ungkapan di atas, makna ungkapan ora ilok
    bocah wedok lungguh karo jigang adalah sebagai nasihat orang tua
    kepada anak gadisnya supaya bersikap sopan, karena tidak pantas
    jika seorang gadis duduk dengan mengangkat kaki. Dengan terbiasa
    bertingkah laku yang baik dan sopan di rumah, diharapkan si gadis
    tidak akan canggung dan tidak bersikap yang kurang pantas baik di
    luar rumah maupun dalam pergaulan.

(c)   Untuk Wanita Hamil

Ungkapan ora ilok yang khusus ditujukan untuk wanita hamil dapat diperhatikan pada data berikut.

1. Ora ilok, wong meteng mateni kewan, mengko anake cacat
    “tidak baik, orang hamil membunuh binatang, nanti anaknya bisa
    cacat”
    Fungsi ungkapan ini adalah nasihat dari orang yang lebih tua kepada
    wanita. yang sedang hamil. Dengan larangan untuk tidak membunuh
    hewan ini diharapkan si ibu dapat memberikan contoh kepada
    anaknya supaya kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan
    penyayang. Selain itu, diharapkan anaknya kelak menjadi anak yang
    sabar dan menghormati sesama makhluk Tuhan serta menjadi anak
    yang berbudi pekerti luhur.

2. Ora ilok, wong meteng lungguh neng tampah “tidak baik wanita
    hamil duduk di atas tampah”
    Ora ilok, orang yang sedang hamil duduk di atas tampah. Secara
    rasional kalau tampah itu diduduki orang yang sedang hamil akan
    rusak, dan bisa mengganggu kesehatan orang yang sedang hamil dan
    bayinya. Bahkan bila tampah diduduki oleh siapapun logikanya akan
    rusak karena fungsi tampah bukan untuk diduduki. Makna dari
    ungkapan ini adalah orang yang sedang hamil sebaiknya menjaga
    sikap dan tingkah laku supaya anak yang dilahirkannya kelak akan
    menjadi anak yang berperilaku dan berbudi pekerti yang baik.

(d)   Untuk umum

Berdasarkan data, contoh ungkapan ora ilok yang difungsikan untuk umum atau semua usia adalah sebagai berikut.

1. Ora ilok mangan karo ngomong “tidak baik makan sambil bicara”
    Dilihat dari bentuknya, larangan ini berlaku untuk umum, mulai dari
    anak-anak hingga dewasa. Larangan ini pun mempunyai makna yang
    tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan ora ilok mangan
    karo ngomong ini merupakan ajaran atau nasihat supaya dalam
    hidup, orang harus bertingkah laku yang sopan dengan tidak
    melakukan hal-hal yang tidak pantas. Selain itu, jika larangan itu
   dilakukan (makan sambil bicara) bisa menyebabkan tersedak.

2. Ora ilok mangan karo mlaku “tidak baik makan sambil berjalan”
    Dilihat dari bentuknya, larangan ini berlaku untuk umum, mulai dari
    anak-anak hingga dewasa. Larangan ini pun mempunyai makna yang
    tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan ora ilok mangan
    karo mlaku ini merupakan ajaran atau nasihat supaya dalam hidup,
    orang bertingkah laku sopan dan sesuai dengan norma, dan tidak
    melakukan hal-hal yang tidak pantas. Selain itu, secara rasional
    kalau makan sambil berjalan tentu saja makanannya bisa kotor
    terkena debu atau kuman yang akan membahayakan kesehatan orang
    yang bersangkutan.

3. Ora ilok ngidoni sumur, mengko lambene guwing “tidak baik
    meludahi sumur, nanti bibirnya akan sumbing”
    Ungkapan ora ilok ngidoni sumur, mengko lambene guwing ini
    berfungsi sebagai nasihat untuk umum, dari anak-anak hingga
    dewasa. Meludahi sumur akan menyebabkan bibir sumbing tidak
    irasional/tidak logis. Akan tetapi, secara rasional, bisa dimaknai
    ludah itu kotor, dan air sumur digunakan untuk memasak, minum,
    mandi dan sebagainya. Jadi air sumur sebaiknya harus selalu dalam
    keadaan bersih dan sehat. Bila air sumur diludahi, maka akan
    menjadi kotor dan tidak baik untuk dipergunakan sehari-hari. Makna
    yang tersirat dalam ungkapan ini adalah sebagai manusia sebaiknya
    selalu bertingkah laku yang sopan, dan jangan melakukan perbuatan
    yang tidak pantas.

4. Ora ilok mbuwang uwuh neng longan ”tidak baik membuang sampah
    di bawah tempat tidur”. Ungkapan ora ilok yang artinya dalam
    bahasa Indonesia “tidak baik membuang sampah di bawah tempat
    tidur” itu tentu saja tidak pantas dilakukan karena tidak baik untuk
    kesehatan, sebab kalau sampah itu membusuk bisa menjadikan bau
    tidak sedap/tidak enak. Selain itu, bisa juga sampah akan menjadi
    sarang bibit penyakit. Ungkapan ini berfungsi untuk umum dan
    sebagai nasihat untuk semua orang supaya melakukan segala sesuatu
    sesuai dengan etika.

5. Ora ilok nyapu bengi-bengi “tidak baik menyapu malam-malam”
    Ungkapan ora ilok nyapu bengi-bengi “tidak baik menyapu pada
    malam hari” merupakan larangan yang ditujukan untuk umum. Malam
    hari adalah waktu untuk istirahat/tidur. Oleh karena itu, tidak baik
    menyapu pada malam hari karena debu yang beterbangan bisa
    mengganggu orang yang sedang tidur. Selain itu, menyapu pada ,
    malam hari dikhawatirkan kotoran yang disapu kurang bersih.

 
Kesimpulan


Ungkapan ora ilok dalam bahasa Jawa masih sering digunakan oleh masyarakat Jawa, tujuanya sebenarnya adalah untuk kebaikan walaupun kadang akibat yang digunakan untuk menakut-nakuti lebih banyak tidak masuk akal dan nalar kita. Namun yang terpenting adalah ora ilok atau larangan itu diciptakan untuk membatasi masyarakat jawa supaya tidak melakukan hal-hal yang mungkin bisa merugikan baik diri sendiri atau orang lain.

Daftar Pustaka    


♦ Abikusno.1996. Pepak Bahasa Jawa Engggal. Expres: Surabaya.

♦ Indra, Ida Bagus Ketut Maha. 2007. Wacana Larangan pada Masyarakat
   Singaraja Sebuah Kajian LinguistikKebudayaan. Denpasar: Balai
   Bahasa Denpasar.

♦ Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. 2003. Jakarta: Balai
   Pustaka

♦ Sugiarto, Joko. 2010. “Peribahasa Jawa sebagai Falsafah Bangsa
   Indonesia” Proseeding dalam Seminar Perspektif Bahasa-Bahasa
   Austronesia dan Non Austronesia. Denpasar: Udayana

♦ Sabdawara. 2001. Pengajaran Bahasa Jawa Sebagai Wahana
   Pembentukan Budi Pekerti Luhur. Makalah Konggres. Yogyakarta:
   Konggres Bahasa Jawa III.

, ,
Artikel Terkait
Latest Posts from DalangSeno.com